Motivation Letter
Haidar Arrasyid
Cluster 27
Motivation
Letter
Diri sendiri boleh jadi adalah orang pertama yang kita
kenali sebelum kita mengenal orang lain. Tapi, seberapa dalam kita memahaminya,
acapkali menjadi misteri yang tak kunjung terpecahkan. Padahal, memiliki
pemahaman mendalam tentang diri sendiri merupakan hal yang vital untuk apa pun
yang kita kerjakan. Baik untuk kebaikan diri, untuk membangun hubungan yang
lebih baik, juga untuk menciptakan hidup yang berarti dan memuaskan.
Kebenaran tentang kesalahan yang kita lakukan,
tentulah bukan kabar baik yang ingin kita dengar. Tapi harus kita terima dan
hadapi dengan tegar, sebab membuka “pintu kebenaran” dapat memberi kita
informasi yang positif dan berharga, asal saja kita mau lapang dada
menerimanya. Melakukan refleksi untuk memahami diri memang acap tak
mudah, karena jujur menguliti diri merupakan sebuah kegiatan yang tak
menyenangkan. Kita biasanya lebih mudah mencari perlindungan di balik berbagai
alasan. Padahal, membuka semua selubung alasan itu adalah hal kritis yang amat
perlu dilakukan. Sembilan latihan yang disarankan Howes ini bisa kita coba
lakukan.
Kenang, hitung dan catat momen-momen
membanggakan. Adakah momen-momen yang membuat kita
merasa bangga? Ingat-ingat semua momen membanggakan yang kita lakukan untuk
diri sendiri, dan catat agar momen tersebut bisa kita “kunjungi” lagi tiap kali
ingin melakukan sesuatu yang membuat rasa bangga itu hadir kembali.
Kenali perilaku lama. Banyak
dari kita yang terus haus mencari kesempurnaan dan kerap merasa bahwa kita tak
membuat dampak apapun untuk mengatasi kesulitan emosional seperti rasa malu dan
kesedihan.
Lihat role model kita. Dalam
setiap tahapan perkembangan, setiap orang umumnya memiliki role model yang
digunakan sebagai contoh untuk berkembang. Sarikan dalam kalimat-kalimat yang
mudah diingat, hal-hal apa saja yang diajarkan para role model ini bagi kita.
Apakah pelajaran-pelajaran tersebut masih kita sepakati saat ini atau tidak.
Ingat-ingat, hal apa saja yang beresonansi
dengan kita. Coba ingat-ingat, buku, film, atau acara
televisi apa saja yang beresonansi secara emosional dengan diri kita. Lalu coba
lakukan eksplorasi tentang apa saja dari hidup kita yang bisa diidentifikasi
dengan hal-hal tersebut secara mendalam.
Minta masukan dari orang-orang yang kita
sayang. Mintalah masukan dari teman dan keluarga
untuk mengamati, hal-hal apa yang menurut mereka bisa membuat kita bahagia atau
tertekan. Tentu saja, tak mudah meminta orang lain memberi masukan. Tapi mereka
akan sangat mungkin memberi masukan yang mengejutkan dan amat membantu kita
memahami diri sendiri.
Hubungkan diri kita dengan masa
muda. Cari kembali foto-foto masa lalu dan coba
kenang dan rasakan lagi perasaan yang kita rasakan saat-saat itu. Tanyakan pada
kita dalam foto tersebut, apa yang ia pikirkan tentang kita sekarang. Adakah
perubahan yang ia ingin kita lakukan dalam hidup?
Pikirkan lagi kebiasaan. “Hal
apa yang manjur untuk kita?” Menurut Howes, pertanyaan ini bisa menyuguhkan
pada kita kebijaksanaan-kebijaksanaan penting yang bisa membantu kita memahami
diri sendiri. Amati, apakah kebiasaan-kebiasaan kita itu produktif atau justru
destruktif dalam perjalanan kita sejauh ini. Kita, misalnya, bisa saja
mulai mengamati, apakah jam kerja 70 jam seminggu produktif atau destruktif
buat kita. Lalu bagaimana dengan kebiasaan-kebiasaan kita yang lain. Bila
kebiasaan-kebiasaan itu membuat kita sengsara, apa yang bisa kita lakukan untuk
melakukan perubahan? Dari situ, kita bisa mulai kembali menata diri dan lebih
mengenalinya.
Fokus pada hal-hal yang menginspirasi. Howes
menyarankan kita untuk bertanya pada diri sendiri, kapan kita merasa bebas dan
sangat bersemangat. Bila sudah menemukan jawabannya, kita mulai bisa mengamati,
apakah kita telah menjadikan upaya untuk menciptakan momen tersebut sebagai
prioritas.
Tanyakan selalu 'pertanyaan
ajaib' ini. Pertanyaan ini merupakan salah satu
teknik utama dalam terapi fokus-solusi. “Bila malam ini, saat tidur, sebuah
keajaiban terjadi, esok ketika bangun pagi, hal apa yang akan segara saya
sadari, bahwa hidup tiba-tiba menjadi lebih baik?” Menurut Howes, pertanyaan
ini bisa membantu kita mengidentifikasi apa yang benar-benar kita inginkan, apa
yang terjadi dan bisa membantu kita menemukan cara mengatasi hambatan-hambatan
yang kita temui.
Komentar
Posting Komentar